Bulan ini saya menyelesaikan bacaan dari buku terbaru Linda Christanty yang berjudul Adakah Air Mata untuk Orang-Orang Tak Bersalah? Sebuah kumpulan tulisan yang dihimpun dari media sosialnya. Selama ini ia memang rajin menuliskan pemikiran-pemikiran melalui akun Faceboknya. Tulisan-tulisan tersebut kemudian dibukukan oleh Penerbit Buku Mojok di awal tahun 2021 dan menjadi salah satu bacaan recommended pembuka tahun.
Ada 36 judul yang tersaji. Meski
memiliki bahasan yang beragam, benang merah dari seluruh tulisan di buku
setebal 227 halaman ini tidak jauh dari isu Hak Asazi Manusia, isu perempuan, keberpihakan
terhadap minoritas, masyarakat miskin, dan kelompok termarjinalkan lainnya. Sebuah
dunia yang memang telah digeluti Linda Christanty selama ini.
Pada sebuah artikel yang menjadi
judul buku ini misalnya, ia menangkap fenomena orang-orang yang sibuk
membicarakan toleransi dan perlunya menghargai keberagaman dalam beberapa tahun
belakangan ini. Seolah-olah isu toleransi merupakan hal baru yang tidak
diajarkan kepada kita sebelumnya. Padahal sejak bangku sekolah dasar kita telah
diajarkan makna Bhineka Tunggal Ika. Dalam bersosialisasi tak jarang kita juga
berinteraksi dengan beraneka ragam manusia dengan karakter dan background
yang berbeda-beda.
Dalam hal ini, sependapat dengan hal
tersebut, saya juga melihat fenomena orang-orang yang menjadi semakin sensitif,
terutama apabila berkaitan dengan keyakinan dan nilai-nilai yang dianutnya.
Dulu saya merasa gojekan dengan menyinggung agama adalah hal yang biasa
dan sering dilakukan ketika ngobrol dengan teman. Almarhum Gus Dur juga sering
menyinggung agama saat melontarkan leluconnya. Namun kini, terpeleset pada satu
kata saja bisa berujung laporan kepolisian dan berurusan dengan hukum yang
berkepanjangan.
Belakangan kita menyaksikan rakyat
dipecah belah dan diprovokasi sedemikian rupa menggunakan isu agama. Linda
berpendapat bahwa semakin isu agama diaduk, semakin isu kesejahteraan ditutupi
dan isu-isu lain membusuk. “Kaum modal jahat memanfaatkan isu agama. Penguasa
korup menikmatinya. Politikus busuk bergembira. Media memperbesarnya.
Politisasi agama terjadi.” Dan ketika kekisruhan berlangsung, rakyat kecillah yang
menjadi tumbal.
Selain menyoroti problem cara
beragama tersebut, dalam buku ini pembaca juga akan disajikan
perenungan-perenungan Linda terhadap sejumlah hal seperti Imlek, kasus Semanggi,
penjara, dan lain-lain. Catatan-catatan tersebut ditulis dengan menarik. Ditulis secara naratif dan deskriptif yang
didukung dengan data-data yang kuat. Saat membaca tulisan tersebut, kita seperti
dibawa dalam alur kisahnya dan oleh karena itu, isu-isu tersebut menjadi lebih
dekat dengan keseharian kita []