
Di usia menjelang kepala tiga ini entah kenapa secara naluriah dan qodrat alam saya mulai aware pada perkara kesehatan. Saya yang sebelumnya tak acuh dengan postingan pakde-budhe di grup trah simbah tentang manfaat daun kelor untuk kesehatan sekarang mulai tertarik membacanya hingga tuntas. Tips-tips praktis menjaga kesehatan yang sebelumnya terdeteksi sebagai spam kini menjadi konten yang menguji iman untuk dikulik.
Barangkali ini bentuk kebijaksanaan manusia usia tiga puluh. Ketika anggota tubuh sudah berhenti tumbuh dan fungsinya mulai berkurang, perasaan khawatir memacu keinginan kita untuk berbenah memperbaiki cara hidup yang ugal-ugalan kala usia 20-an. Bisa jadi fase ini akan menjadi titik penting kehidupan saya ke depannya.
Momentum pertama saya tergugah pada isu kesehatan yaitu ketika perusahaan memberikan fasilitas medical check up di akhir 2021. Saat itu berat badan saya mencapai 88-89 kilo, hampir 90. Baju kerja sudah sesak karena ketika pertama kali dipakai, berat badan saya dulu 74 kilo. Naik belasan angka hanya dalam beberapa tahun.
Dari hasil medical check up itu saya diberi sejumlah tanda bintang yang jumlahnya lumayan banyak pada beberapa bagian. Tapi ini bukan bintang ala tentara lo ya. Semakin banyak bintang, tandanya semakin banyak PR yang perlu diperhatikan. Entah terkait kolesterol, kadar gula darah, hingga tekanan darah.
Setelah itu saya mulai meyakinkan diri untuk menajalankan program kembali ke 70-an kilo di 2022. Saya mulai mengatur makan dan mengurangi gula. Hingga saat ramadan tiba, berat badan turun 4 kilo dalam satu bulan. Itu pencapaian yang luar biasa.
Pasca Ramadan, dalam euforia merayakan penurunan berat badan itu, saya memberikan apresiasi kecil buat diri sendiri dengan memberikan kelonggaran untuk menyantap sejumlah sajian lebaran. Namun yang namanya iman saja bisa naik dan turun, urusan keteguhan hati menahan godaan makan goyah juga. Makan-minum mulai berantakan lagi, alhasil berat badan kembali ke melonjak. Lemak di badan ini memang bandel. Susah turunnya, namun giliran dipanggil naik gercepnya minta ampun.
Di tengah kelengahan mempertahankan semangat menurunkan berat badan, qadarullah kawan kami di kantor mendapat cobaan sakit yang tidak memungkinkannya bekerja seperti sedia kala. Momentum ini mengingatkan kembali kepada kami untuk memperhatikan kesehatan di tengah-tengah kesibukan pekerjaan. Sebab kesehatan adalah pangkal dari kebahagiaan.
Selama ini rutinitas yang dijalani cenderung membentuk gaya hidup yang buruk. Berangkat kantor sedari subuh, pulang sudah larut malam. Pekerjaan sebagian besar dilakukan dengan duduk di menghadap laptop sepanjang hari dengan sedikit atau bahkan tanpa aktivitas fisik yang membakar kalori.
Dengan aktivitas yang sedikit itu saja lemak sudah bertumbuh, apalagi jika ditambah aneka macam cemilian dan kopi kekinian di meja, lemaknya jadi makin subur. Setiap hari kegiatan itu berulang secara repetitif dan tanpa sadar saya menikmati dan terbiasa dengan tubuh yang makin membesar. Biasanya kita abai dengan kondisi ini dan baru tergugah ketika tubuh mulai menampakkan tanda-tanda anomalinya.
Maka sebelum itu terjadi, kami mencoba untuk memperbaiki gaya hidup dengan mulai berolahraga. Olah raga yang murah dan mudah dilakukan adalah lari. Bagi saya yang tidak pernah berolahraga, memulai langkah pertama beratnya nau’zubillah. Baru berlari beberapa meter saja irama jantung kencangnya melebihi suara bedug masjid jami’ di kampung sebelah. Napas juga terasa berat. Terengah-engah dan selalu merayu-rayu agar segera berhenti meneguk air.
Namun ternyata ini masalah kebiasaan saja. Ketika sudah dijalani, perlahan-lahan badan akan menyesuaikan. Dari awalnya hanya kuat berlari 100 M, lama-lama menjadi 1 KM. Dari yang 1 KM naik lagi ke 5 KM. Hingga pada akhirnya kami nekat untuk mendaftar race lari sepanjang 10 KM di awal Desember agar ada target sebagai penyemangat agar olah raga lari yang kami mulai tidak kendor.
Secara perlahan lari menjadi salah satu agenda yang wajib dilakukan, setidaknya tiga kali dalam seminggu. Dari yang berjarak pendek hingga jauh, dari yang bergerak pelan hingga mencoba lebih kencang. Alhamdulillah bahkan ketika sedang berkegiatan di luar kota, sebisa mungkin disempatkan berlari menikmati suasana pagi kota tersebut dengan berkeringat.
Sepanjang pembiasaan olah raga yang sudah dilakukan, saya menjadi sadar bahwa memang kita tidak bisa mencari waktu luang untuk berolahraga. Melainkan kitalah yang harus meluangkan waktu. Sebab kalau dicari-cari memang bakal buntu karena agenda sudah padat dalam sehari. Toh untuk berlari sepanjang 5 kilo kita hanya membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam saja. Daripada digunakan untuk melihat TikTok yang tanpa sadar telah merenggut berjam-jam waktu kita.
Berlari dan olah raga pada umumnya merangsang otak kita memproduksi hormon endorfin yang dapat meningkatkan mood, membuat tubuh rileks, dan memantik suasana bahagia. Itulah mengapa bukannya capek, saya malah jadi merasa puas dan bahagia setiap selesai berlari.
Kebahagiaan-kebahagiaan kecil inilah yang ingin dicari dengan membiasakan diri rutin berlari. Ketika bahagia, otak dan tubuh saling terkait membentuk reaksi positif membangun imun yang lebih kuat sehingga insyaallah menjadi faktor memperpanjang usia.